Inspirasi
Sabtu, 06 Januari 2018
Sepenggal Video warga desa Tangguh sedang mengangkut Batu dan Pasir
Selasa, 24 Mei 2016
Acara Gawai di Sebujit, Kec. Siding, Kab. Bengkayang, Kalimantan Barat
Acara Gawai di Sebujit, Kec. Siding, Kab. Bengkayang, Kalimantan Barat
Rumah Adat (Baluk) Sebujit
Panjat Pinang Terbalik
Foto Penyambutan Tamu
Foto Penyambutan Tamu
Upacara Memandikan Tengorak
Ritual Nyobeng Gawai Dayak Suku
Dayak Bidayuh Kampung Sebujit, Kalimantan Barat merupakan upacara memandikan
atau membersihkan tengkorak kepala manusia hasil mengayau oleh nenek moyang
suku Dayak Bidayuh. Ini dilakukan suku Dayak Bidayuh, satu diantara sub-suku
Dayak di Kampung Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan
Barat.
Nyobeng dulu sebenarnya berasal dari
kata Nibakng atau Sibang yang merupakan kegiatan Ritual yang besar dan tidak
bisa sembarangan. Pemerintah yang datang ke daerah dulu, mereka menyebutnya
Sibakng itu adalah Sobeng. Kalau Sibakng lebih bagus kenapa kita tidak
menyebutnya Nyobeng, kata mereka. Nibakng sebenarnya sama, yaitu pertama
Nibakng ini merupakan kegiatan tahunan yang paling besar merupakan ucapan
syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tipa’ Iyakng (dalam bahasa suku Dayak
Bidayuh), atas berkat panen padi yang diterima masyarakat suku Dayak Bidayuh .
Mengayau adalah memenggal kepala
manusia dan tengkoraknya diawetkan. Sekarang tradisi mengayau sudah tidak
dilakukan lagi. Upacara ini cukup mengharukan dan berlangsung selama tiga hari,
mulai 15 – 17 juni yang harus di laksanakan setiap tahun. Pra kegiatan ritual
Nyobeng dilakukan dengan buka rumah Baluk (rumah adat Suku Dayak Bidayuh) pada
13 Juni. Pembukaan rumah adat ini juga dilakukan dengan sebuah ritual, yaitu
ritual buka rumah Baluk, ada beberapa sesajian yang menjadi syarat ritual ini,
yaitu sirih, gambir, kapur, pinang, tuak, daun jeruk dan bawang kucai sebagai
pewanginya.
Setelah rumah Baluk di buka musik dengan alat
tradisional yang ada di dalam rumah Baluk harus dimainkan terus, musik itu
disebut musik simaniamas, yaitu musik
santai dan persahabatan. Inti dari ritual Nyobeng yakni, memandikan tengkorak
kepala manusia hasil mengayau yang disimpan dalam rumah Baluk. Sesuai aturan
yang dipercaya secara turun temurun. Di mulai menyambut tamu di batas desa.
Awalnya, ini dilakukan untuk menyambut anggota kelompok yang datang dari
mengayau. Proses ritual Nyobeng ini dilakukan dalam beberapa tahap.
Tahap pertama ritual di mulai pukul
04.00 subuh, bertempat di rumah Baluk di pimpin oleh ketua adat. Ritual pertama
ini disebut dengan Paduapm (dalam bahasa Dayak Suku Bidayuh artinya hening)
yang artinya memanggil atau menggundang roh-roh para leluhur untuk datang dalam
ritual Nyobeng dan sekaligus memohon izin atas ritual yang akan dilaksanakan,
supaya semuanya berjalan dengan baik dan mendapat berkat dari para leluhur
(Tipa’ Iyakng; menyebut Tuhan dalam bahasa Suku Dayak Bidayuh). Rumah Baluk
merupakan rumah Adat Suku Dayak Bidayuh yang berupa rumah panggung dan
berbentuk bulat. Untuk memasuki rumah adat ini, dibuat undakan yang terbuat
dari bilah pohon atau kayu belian.
Rumah Baluk dengan tinggi 16 meter
dan berbentuk bulat, dengan 21 tiang penyanggah dari kayu belian, beratapkan
daun sagu, dan dinding dari bambu yang terbelah. Dengan satu pintu utama, di
bagian kiri dan kanan masing-masing satu buah jendela yang terbuka mengagak
keatas dengan satu kayu penyanggah. Bagian belakang dengan dua jendela yang
berlapis diatas dan bawah, terbuka mengagak keatas, didepan pintu masuk ada dua
buah patung dari kayu belian yang berdiri dan saling berhadapan, disebelah kiri
dan kanan. Patung ini merupakan patung nenek moyang suku Bidayuh. Rumah Baluk
ini sangat menawan jika di lihat dari kejauhan. Rumah Baluk sudah ada sejak
tahun 1997 dan sekarang sudah 14 tahun, dengan berlantai papan, berdinding
bambu, dan beratap daun sagu masih tetap kokoh berdiri. Atap yang terbuat dari
daun sagu tersebut harus diganti setiap tahunnya.
Sebuah lapangan bola kaki yang cukup
luas dibawahnya menambah indahnya pesona rumah Baluk. Bagian dalam rumah Baluk
cukup luas dan ada banyak barang untuk kegiatan ritual Nyobeng. Bagian dalam
rumah Baluk di bagi menjadi tiga lantai, yaitu lantai dasar, lantai satu, dan
lantai dua paling atas yang berukuran kecil.
Pada lantai dasar rumah baluk, siapa
saja boleh masuk, karena untuk umum yang bisa menampung sekitar 5 orang lebih
bagi yang ingin menyaksikan ritual Nyombeng. Di tengah-tengah rumah baluk ada
dapur yang biasa di gunakan oleh Suku Dayak Bidayuh untuk memasak, di sebelah
kanan ada 4 buah Aguakng (Aguakng dalam bahasa
Dayak Bidayuh yang artinya Gong) yang di gantungkan di dinding rumah Baluk,
yaitu alat musik tradisional mirip seperti Tawak yang memiliki bunyi yang
berbeda, dan sebelah kanannya ada 5 buah gutakng berukuran kecil kira-kira
sebesar baskom kecil yang di simpan dalam satu tempat memanjang dari kayu, 1
buah sanang (gong ukuran kecil) yang digantungkan dekat pintu, dan 1 buah tawak
juga di gantungkan dekat pintu sebelah kanan, dan semuanya memiliki bunyi yang
berbeda, sangat menarik dan memanjakan teliga bagi yang mendengarnya.
Dibagian tengah ada sibakng (bahasa
Dayak Bidayuh) yang panjangnya 7 meter ke bawah hingga menembus lantai rumah
baluk, yang terbuat dari batang pohon yang panjang dan di lubangi, besarnya
kira-kira sepelukan orang dewasa, makin ke bawah semakin kuncup dan bagian
permukaan besar, di gantungkan dengan rantai. Selalu di bunyikan setelah rumah
baluk di buka. Dibagian atas ada kabukng mirip gendang sebagai pengiring sibakng
jika di mainkan. Naik ke lantai satu hanya boleh tujuh orang dan tidak boleh
lebih pada saat ritual Nyombeng dilakukan, ketujuh orang ini bukanlah orang
sembarangan, orang-orang yang sudah mendapat kepercayaan, orang berani,
merupakan ketua adat dan tujuh orang ini saling melengkapi pada saat ritual
dilakukan. Lantai keduanya paling atas dekat bumbungan dan berukuran kecil,
merupakan tempat penyimpanan tengkorak kepala manusia hasil mengayau nenek
dulu, dan juga tulang-tulang binatang hasil berburu.
Pada saat ritual memandikan
tengkorak dengan darah babi, hanya satu orang yang melakukannya yaitu oleh
ketua adat yang sudah sangat terpecaya oleh masyarakat. Proses yang kedua pada
acara ritual Nyobeng yaitu penyambutan tamu (biasa disebut Nabuai bahasa Dayah
Bidayuh). Dimulai menyambut tamu di batas desa. Awalnya dilakukan untuk
menyambut anggota kelompok yang datang dari mengayau. Penyambut mengenakan
selempang kain merah dengan hiasan manik-manik dari gigi binatang hasil berburu
yang dikalungkan. Dilengkapi dengan sumpit, mandau, dan senapan lantak yang
dibunyikan ketika para tamu undangan hendak memasuki batas desa. Sumpit dan
Mandau juga di acungkan bersama-sama sambil berseru. Letupan lantak dan
seseruan tersebut juga berguna memangil roh para leluhur sekaligus meminta izin
bagi pelaksanaan ritual Nyobeng.
Para tamu undangan telah menanti diperbatasan
desa tempat ritual akan dilaksanankan, kemudian rombongan ketua adat dan
tetua-tetua adat datang dari rumah Baluk ke perbatasan desa untuk menyambut tamu
tersebut. mereka datang dengan segala persiapan, berselempang kain merah,
berkalungkan manik-manik dari taring binatang, dan memegang sumpit, Mandau, dan
Senapan lantak sambil berseru serempak sepajang jalan menuju perbatasan desa
tempat tamu telah menunggu. Setibanya diperbatasan desa mereka tetap berseru
sambil mengacungkan sumpit dan mandau ke atas dan membuyikan senapan lantak
beberapa kali. Ritual penyambutan tamu dilaksanakan, ketua adat telah siap
dengan sesajian yang dibawanya. Tetua adat melemparkan ajing keudara, dengan mandau,
pihak kedua tamu rombongan harus menebasnya dengan Mandau hingga anjing itu
mati, jika masih hidup harus dipotong begitu jatuh ketanah.
Proses ini juga dilakukan untuk
ayam, ketua adat melemparkan ayam ke udara, dan pihak ketiga rombongan tamu
harus menebas ayam itu dengan Mandau sampai mati. Kemudian dilanjutkan dengan
melemparkan telur ayam ke rombongan tamu undangan yang dilakukan oleh ketua
adat perempuan, jika telur ayam tidak pecah, maka tamu undangan yang datang di
anggap tidak tulus, sebaliknya jika pecah di badan bearti tamu undangan datang
dengan ilkas. Beras putih dan kuning dilempar sambil membaca mantra. Para gadis
lalu menguyuhkan tuak dari pohon enau yang di campur kulit pohon pakak yang
sudah dikeringkan. Usai minum, rombongan tamu diantar menuju rumah Baluk di
tengah perkampungan Kampung Sebujit. Sambil berjalan menuju rumah Baluk, ketua
adat berjalan paling depan sambil menari dan diiringin musik untuk mengiringi
rombongan tamu sampai ke rumah Baluk, ada yang berseru-seru.
Ribuan orang datang dari berbagai
daerah, bahkan dari luar Kalimantan hanya untuk menyaksikan ritual Nyobeng yang
juga merupakan gawai Dayak Suku Dayak Bidayuh Kampung Sebujit, Kecamatan
Siding, Kabupaten Bengkayang ini yang memang dilaksanakan setiap tahunnya dan
setiap 15-17 Juni. Saat masuk tempat upacara ritual, rombongan diberi percikan
air yang telah diberi mantra dengan daun anjuang (anjuang dalam bahasa Dayak
Bidayuhnya disebut pungiat), yang berfungsi sebagai tolak bala.Tujuanya agar
para tamu terhindar dari bencana. Ketika masuk depan area rumah Baluk tempat
upacara, para tamu harus menginjak buah kundur dan batang pisang yang telah di
belah disimpan dalam baskom. Ritual ini lebih dikenal dengan ritual pepasan. Bersama
warga dan ketua adat, para tamu kemudian menari tari simaniamas sambil mengitari rumah Baluk. Maniamas adalah tarian
untuk menyambut dan menghormati para pembela tanah leluhur yang baru datang
dari mengayau.
Sambil diiringin tetua-tetua adat
dengan bernyayikan lagu dan berseru-seru beberapa kali dan sambil membaca
mantra-mantra. Ketua adat dan para tetua adat lainya masuk ke rumah Baluk.
Sebelum acara dimulai, para tamu undangan istimewa, telah hadir Sebastianus
Darwis (ketua DPRD Kabupaten Bengkayang), Bupati Bengkayang yang di wakili
Sekda Kabupaten Bengkayang, anggota DPD Kabupaten Bengkayang, ketua dewan adat
Kecamatan Siding (Deki Suprapto), para tokoh masyarakat dan tokoh agama yang menghadiri
pembukaan ritual Nyobeng menuju tempat yang telah di siapkan panitia menghadap
ke rumah Baluk.
Pembukaan acara ritual Nyobeng
dilakukan dengan pemukulan sibakng sebanyak tujuh kali sebagai tanda dimulainya
ritual Nyobeng, di rumah Baluk yang dilakukan langsung oleh ketua DPRD
Kabupaten Bengkayang, Sebastianus Darwis, yang di dampinggi oleh ketua adat
Suku Dayak Bidayuh, Bpk Amin. Tema Gawai Dayak Sebujit tahun ini, yaitu “Mari
Kita Menjunjung Tinggi Adat dan Budaya Kita dengan Tetap Mengedepankan
Keharmonisan dalam Kebhinekaan”. dalam sambutanya, Georgius Gunawan, selaku putera
daerah yang mampu membanggakan masyarakat Sebujit dan sebagai ketua panitia
mengatakan, “mari kita sukseskan gawai ini dalam hal saling menghormati,
walaupun banyak perbedaan diantara kita, berbeda-beda asal, daerah, suku,
bahasa tetapi kita tetap satu juga”.
Gunawan juga mengatakan, mari kita
sukseskan gawai ini bersama-sama supaya dapat berjalan dengan aman dan tertib
sampai selesai tetap aman. Bupati Bengkayang yang pada waktu itu diwakili oleh
Seketaris Daerah, Kristianus Ayim, M.Si. Mengatakan, “Ritual Nyobeng bukan
hanya memandikan tengkorak, tetapi melainkan manifestasi dari nilai-nilai yang
di yakini masyarakat Dayak Bidayuh. Melalui rangkaian upacara Nyobeng kita
mengetahui nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai tersebut adalah keyakinan, penghormatan
terhadap leluhur, menghargai perbedaan, solidaritas sosial, dan ketaatan
terhadap aturan dan adat istiadat, tradisi dan gawai adat Dayak Bidayuh tahun
2013 ini merupakan warisan leluhur yang terus dikembangkan dan dipertahankan
sejak dahulu kala secara turun temurun, karena budaya merupakan karakter bangsa
kita”.
Menjaga agar kekuatan spiritual yang
ada dalam tengkorak manusia jika diperlakukan dengan tepat dapat melindungi
masyarakat dari berbagai macam bencana, menjadi penghubung kepada Jubata. Hal
ini dipandang perlu untuk mengajarkan budaya bersyukur kepada Jubata penguasa
alam semesta atas rezeki yang melimpah yang telah diterim, lanjut Ayim. Selain
itu gawai Bidayuh mengandung makna filosofi merupakan rasa solidaritas,
persamaan, persatuan, serta menumbuhkan rasa kecintaan terhadap nilai-nilai
kesenian dan budaya itu sendiri. Serta menjadi modal yang kuat untuk
menumbuhkan perekonomian masyarakat. Pada dasarnya pemerintah Kabupaten
Bengkayang sangat mendukung kegiatan-kegiatan adat dan budaya seperti ini.
Setelah upacara ritual Nyobeng ini
di buka dengan pemukulan Sibakng sebanyak tujuh kali oleh ketua DPRD Kabupaten
Bengkayang, Sebastianus Darwis dan setelah mendengankan beberapa sambutan dari
beberapa tokoh masyarakat, acara dilanjutkan dengan makan bersama di sekitar
rumah Baluk yang telah di siapkan oleh panitia. Toleransi juga sangat tinggi,
bagi yang tamu yang muslim telah disediakan makanan khusus bukan babi. Para
tamu bebas memilih tempat yang enak untuk makan, karena makanan disediakan dalam
bentuk kotak. Setelah makan tamu boleh meningalkan area rumah Baluk untuk
istirahat. Ritual Nyobeng, memandikan tengkorak kepala manusia hasil mengayau
akan dilaksanakan di rumak Baluk sekitar pukul 21.00 WIB atau pukul 22.00 waktu
Malaysia.
Malam harinya sekitar pukul 19.00
WIB atau pukul 20.00 waktu Malaysia, masyarakat sudah berkumpul di bawah rumah
Baluk yang memiliki tinggi 16 meter dengan 21 tiang penyanggah dari kayu
belian. Nampak kokoh berdiri di tengah-tengah perkampungan Sebujit yang juga menjadi
kebanggaan masyarakat sebujit karena rumah Baluk ini juga sudah dibangun di
Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta (TMII). Masyarakat berharap hal ini akan
terus berkembang dan tidah hanya sampai di Taman Mini Jakarta, bisa dikenal
oleh seluruh lapisan bahkan sampai lapisan Nasional dan Internasional bisa
mengenal rumah Baluk dan ritual Nyobeng di Kampung Sebujit ini. Sebelum memulai
ritual Nyobeng yang merupakan ritual inti dari upacara ini. Ritual dimulai
dengan memotong kepala anjing dan ayam di bawah rumah Baluk.
Ayam akan diambil darahnya dan anjing akan
diambil kepalanya untuk sesajian kepada para leluhur. Setelah itu dilanjutkan
dengan tari-tarian dan menari bersama-sama masyarakat, para tamu, dan tetua
adat dengan diiringi musik yang dimainakan dari dalam rumah Baluk, disebut
dengan musik simaniamas. Dua setengah jam lamanya masyarakat menari dengan
iringan musik simaniamas, sekitar pukul 21.30 WIB, ketua adat Bpk. Amin sebagai
pemimpin upacara ritual memandikan tengkorak dan beberapa para tetua adat naik
kerumah Baluk dengan pakaian lengkap kain merah, berkalung manik-manik dari
taring binatang, ikat kepala, dan dengan Mandau di tanggan. Seekor babi yang
lumayan besar terikat pada sebatang kayu, siap untuk di jadikan kurban
kira-kira beratnya hampir mencapai 50 kg, karena tidak harus ditentukan
beratnya berapa.
Para tamu dan masyarakat yang ingin
menyaksikan langsung ritual ini diperkenankan masuk ke rusmah Baluk, ketua adat
dan para tetua adat telah siap, semua mata tertuju pada mereka yang akan
melakukan ritual tanda dimulainya ritual, didepan mereka seekor babi yang tak
berdaya telah siap menjadi kurban. Sibakng di pukul sebanyak tujuh kali tanda
dimulainya ritual, sementara itu para tetua adat sambil berseru-seru dan
mengacungkan Mandau ke atas sambil membaca mantra-mantra. Setelah itu secara
serempak tetua adat langsung menusukan Mandau yang di pegang kearah babi yang
di jadikan kurban, ujung Mandau menancap dan menembus di bagian lengan babi,
suasana serentak berubah menjadi menegangkan dan menyeramkan, jeritan babi
menembus kesunyian malam, darahnya mengalir dari bekas tusukan Mandau yang
masih menancap di lengan babi, semua mata tertuju pada babi yang menjerit.
Para tetua adat terus berseru-seru
sambil membacakan mantra-mantra. Setelah Mandau di tusukkan beberapa kali,
ketua adat mengambil darah babi tersebut menggunakan tangan dan di simpan ke
dalam mangkok kecil, setelah cukup darah yang diambil ketua adat diikuti
beberapa tetua adat naik ke lantai dua meninggalkan babi yang sudah tak bernyawa
sementara darahnya terus mengalir. Tujuah orang tetua adat naik ke lantai dua
untuk ritual selanjutnya, tidak boleh lebih dari tujuh orang, setelah beberapa
saat melakukan ritual, ketua adat dengan membawa darah babi naik kelantai tiga
paling atas rumah Baluk yang merupakan tempat penyimpanan tengkorak kepala
manusia hasil mengayau dan tulang-tulang binatang lainnya hasil berburu.
Kemudian ketua adat mengoleskan darah babi tersebut beberapa kali sambil
membacakan mantra-mantra, setelah merasa sudah cukup, ketua adat pun turun
kemudian semuanya turun ke lantai dasar rumah Baluk.
Ritual selesai, dilanjutkan dengan
memainkan musik simaniamas. Bagian
terakhir dari ritual ini yaitu para tetua adat menyiapkan sesajian terakhir,
berupa hati babi, anjing, dan ayam diantar ke atas setelah itu para tetua adat
makan adat terakhir dari sesajian yang disiapkan. Dengan begitu berakhirlah
ritual Nyobeng memandikan tengkorak kepala manusia hasil mengayau yang di
lakukan di dalam rumah Baluk. Keesokan harinya, hari kedua dari ritual Nyobeng
ini adalah di isi dengan kiatan olahraga tradisional. Ada satu yang sangat unik
sekali dari olahraga tradisional dan mungkin tidak dimiliki oleh daerah lain,
yaitu panjat pinang terbalik dengan kaki ke atas dan kepala kebawah, aneh bukan?
Panjat pinang terbalik ini masih merupakan bagian dari ritual Nyobeng yang baru
saja dilakukan tadi malam, jelas Gunawan selaku ketua panitia dan juga
merupakan putera daerah yang sanggat di banggakan di Kampung Sebujit yang telah
berhasil mengsukseskan acara Gawai Dayak Suku Dayak Bidayuh, Kampung Sebujit
ini.
Hari ketiganya, merupakan hari
terakhir dari upacara ritual Nyobeng ini masih menyisakan satu ritual lagi,
yaitu biasa disebut Balik Layar. Balik Layar ini merupakan ritual terakhir
yaitu pertama ucapan terima kasih kepada roh-roh para leluhur atau “Tipa Iyakng”
yang telah datang pada ritual Nyobeng ini dan yang kedua ritual pengembalian
roh-roh para leluhur atau “Tipa Iyakng” ke tempat asal mereka berada di gunung-gunung
sekitar Kampung Sebujit. Karena seperti ritual pertama di awal mereka di undang
secara baik-baik untuk meminta izin dan untuk hadir dalam ritual Nyobeng, nah
sekarang mereka juga akan dikembalikan lagi ketempat mereka supaya roh-roh
leluhur tadi tetap bersahabat dengan masyarakat, melindungi masyarakat, dan
memberikan rezeki yang melimpah. Dengan ritual terakhir inilah berakhir pula
ritual Nyobeng Suku Dayak Bidayuh Kampung Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten
Bengkayang Kalimantan Barat. Ritual Nyobeng merupakan warisan nenek moyang yang
diwariskan secara turun temurun, sebuah ucapan syukur kepada leluhur.
Ritual ini harus dilaksanakan setiap
tahunnya dan tidak bisa di tinggalkan. Ada konsekuensi tersendiri yang harus
masyarakat Suku Bidayuh terima jika seandainya ritual ini tidak dilaksanakan.
Hal ini tentunya tidak diinginkan oleh masyarakat Bidayuh, sesuatu akan menimpa
mereka dan sama halnya mereka menyumpah diri mereka sendiri, mungkin masyarakat
Dayah Bidayuh tidak bisa hidup nyaman dan tentram seperti sekarang ini, rezeki
akan terus diberikan kepada mereka oleh para leluhur atau Tipa Iyakng (Tuhan). Maka dari inilah masyarakat harus
terus bersyukur kepada Tipa Iyakng (Tuhan) atas rezeki yang melimpah kepada
mereka (masyarakata Dayak Bidayuh). Hal ini dijelaskan langsung oleh Bapak Amin
selaku ketua adat Dayak Bidayuk, Kampung Sebujit dan Pak Gunawan, ketika
wawancara langsung di rumah Baluk, Jumat (14/6) malamnya sekitar pukul 21.00
WIB.
Ketua adat Suku Dayak Bidayuh,
Kampung Sebujit, Bapak Amin berpesan kepada seluruh masyarakat Sebujit agar
tetap mencintai, mempertahankan budaya kita ini, jangan sesekali kita melupakan
budaya sendiri. Bahkan harus terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada
seluruh lapisan masyarakat di Kalbar, secara Nasional, bahkan Internasional
yang belum mengenal budaya kita ini. Jangan sampai budaya yang sudah ada sejak
dahulu kala ini merupakan warisan nenek moyang secara turun temurun ini di
kalahkan bahkan di hapus oleh budaya yang baru sekarang ini yang datang dari
luar. Kepada anak-anak muda Suku Dayak Bidayuh Kampung Sebujit, jangan hanya
menjadi penonton di kampung sendiri ketika budaya kita di pamerkan kepada orang
lain. Kita harus berperan aktif di dalamnya. Karena kalianlah para anak muda
yang memengang kunci pertahanan dan perkembangan budaya ini, tegas Pak Amin.
Begitulah pesan yang disampaikan Pak
Amin selaku ketua adat Kampung Sebujit agar budaya itu tetap tumbuh dan
berkembang sepanjang masa. ** Penulis, Adelbertus Penulis di Kalimantan Review
Pontianak, Kalimantan Barat
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/adelbertus/ritual-nyobeng-dan-gawai-dayak-suku-dayak-bidayuh-kampung-sebujit-kalimantan-barat_552ffeb16ea83432028b4584
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/adelbertus/ritual-nyobeng-dan-gawai-dayak-suku-dayak-bidayuh-kampung-sebujit-kalimantan-barat_552ffeb16ea83432028b4584
Langganan:
Komentar (Atom)




